Kabupaten Solok (Surya24.com) — Keterlibatan TP PKK maupun GOW dalam membantu masyarakat terdampak bencana semestinya dilihat dalam konteks kemanusiaan dan sinergi pemerintah, bukan dipelintir menjadi persoalan kepemimpinan maupun kepentingan pribadi.
Asisten II Setdakab Solok, Jefrizal, S.Pt., M.T., yang bertanggung jawab mengoordinasikan bagian logistik kebencanaan, menjelaskan bahwa keterlibatan berbagai unsur dalam pendistribusian bantuan merupakan bagian dari upaya bersama untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi.
Terkait bantuan bencana yang berada di rumah dinas Bupati maupun Wakil Bupati Solok, menurut Jefrizal, hal tersebut tidak serta-merta dapat dipandang sebagai sesuatu yang keliru. Sejumlah donatur yang memiliki hubungan baik dengan kepala daerah memilih menyerahkan bantuan melalui rumah dinas.
Setelah bantuan diterima, Sekretariat Posko Bencana langsung melakukan pencatatan dan pendataan terhadap bantuan tersebut. Mekanisme itu dilakukan untuk memastikan bantuan yang masuk dapat diketahui dan selanjutnya disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bantuan tidak seluruhnya langsung ditempatkan di gudang Posko Utama karena kondisi gudang saat itu telah penuh. Karena itu, bantuan yang diterima melalui rumah dinas menjadi salah satu titik penampungan sementara sebelum didistribusikan.
Dalam proses distribusi, TP PKK dan GOW juga tidak bekerja tanpa arah. Mereka diberikan pedoman serta peta sebaran bantuan masyarakat terdampak, sehingga distribusi dapat dilakukan secara terarah dan tidak terjadi tumpang tindih. Masyarakat yang belum menerima bantuan menjadi prioritas dalam penyaluran berikutnya.
Jefrizal menegaskan, mekanisme tersebut merupakan bagian dari koordinasi penanganan logistik kebencanaan yang dilakukan secara terstruktur. Karena itu, penilaian terhadap pengelolaan bantuan sebaiknya didasarkan pada fakta dan mekanisme yang berlangsung di lapangan, bukan semata-mata berdasarkan lokasi tempat bantuan sementara ditempatkan.
Terkait narasi pemberitaan yang menggunakan bahasa merendahkan dan tidak elegan, Jefrizal menilai hal tersebut tidak perlu digubris secara berlebihan. Menurutnya, kualitas seseorang dapat terlihat dari narasi yang ditulisnya. Tinggi atau rendahnya pengetahuan dan wawasan seseorang juga dapat tercermin dari seberapa elegan bahasa yang digunakan dalam menyampaikan sebuah pandangan.
“Pembaca tentu dapat menilai sendiri seperti apa kualitas dan nilai dari sebuah narasi editorial. Bahasa yang digunakan dalam sebuah tulisan pada akhirnya akan menunjukkan kualitas, kedalaman berpikir, serta cara pandang penulisnya,” ujarnya.
Karena itu, jangan membuat dugaan sebelum mengetahui fakta di lapangan secara utuh. Dalam penanganan bencana, yang terpenting adalah memastikan bantuan tercatat, terkoordinasi dan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.(basa)