Mengapa Arkeolog Takut Membongkar Makam Kaisar China? Ternyata Ini Alasannya

Rabu, 19 Juli 2023 | 23:34:56 WIB
dok net

JAKARTA (SURYA24.COM)- Makam Kaisar China telah menjadi sumber kekaguman dan misteri selama berabad-abad. Dengan sejarahnya yang kaya dan keindahannya yang tak terbantahkan, makam-makam kaisar ini menjadi tempat penting bagi penelitian arkeologi. Namun, ada beberapa alasan mengapa arkeolog sering kali merasa takut untuk membongkar makam-makam tersebut. Mari kita bahas fenomena ini lebih lanjut.

Pertimbangan Budaya dan Religius

Makam-makam Kaisar China terkait erat dengan kebudayaan dan keyakinan spiritual China. Menurut tradisi, makam-makam ini dianggap sebagai tempat peristirahatan abadi bagi kaisar-kaisar yang telah meninggal. Penduduk setempat seringkali mengaitkan makam-makam tersebut dengan kutukan dan roh jahat yang bisa mengganggu ketenangan mereka. Oleh karena itu, arkeolog sering kali takut untuk mengganggu atau menghormati tempat pemakaman ini.

Pertimbangan Sejarah dan Seni

Makam-makam Kaisar China juga menyimpan peninggalan sejarah dan seni yang sangat berharga. Hiasan dinding, patung, perhiasan, dan artefak lainnya sering kali menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Namun, ketika arkeolog membongkar makam, ada risiko kerusakan atau hilangnya artefak.

Seperti diketahui makam kaisar China adalah situs bersejarah yang kaya akan budaya dan kekayaan arkeologis. Namun, meskipun ada minat yang besar dalam mengungkap misteri di balik makam-makam ini, ada juga kekhawatiran dan keengganan dari beberapa arkeolog untuk membongkarnya. Mengapa mereka takut dan ragu untuk melakukannya?

Salah satu alasan utama adalah adanya pertimbangan etika dan keagamaan. Makam kaisar China dianggap sebagai tempat peristirahatan terakhir yang sakral dan harus dihormati. Mengganggu atau membuka makam-makam ini dianggap sebagai penghinaan terhadap leluhur dan adat istiadat. Para arkeolog seringkali berpegang pada keyakinan ini dan memilih untuk tidak mengganggu kehormatan yang diberikan kepada kaisar-kaisar masa lalu.

Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang kerusakan fisik yang mungkin terjadi saat membongkar makam tersebut. Seiring berjalannya waktu, bahan-bahan bangunan dan artefak di dalam makam bisa mengalami kerapuhan atau kerusakan. Proses penggalian dan ekskavasi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada struktur dan artefak bersejarah yang ada di dalamnya. Arkeolog harus berhati-hati dan mempertimbangkan risiko kerusakan ini sebelum memutuskan untuk membongkar makam.

Besar dan Kompleks

Selain itu, ada juga aspek praktis yang perlu dipertimbangkan. Makam kaisar China seringkali sangat besar dan kompleks, dengan sistem perangkat pemakaman yang rumit. Memerlukan biaya yang besar, waktu yang lama, dan sumber daya manusia yang cukup untuk melakukan ekskavasi yang memadai. Arkeolog mungkin tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melibatkan diri dalam proyek-proyek semacam itu.

Terlepas dari ketakutan dan kekhawatiran ini, arkeolog tetap melakukan upaya untuk mengungkap sebagian dari misteri yang terkandung dalam makam kaisar China. Mereka menggunakan teknologi canggih seperti pemindaian radar dan penginderaan jauh untuk mendapatkan informasi tentang apa yang mungkin ada di dalam makam tanpa perlu membongkarnya sepenuhnya. Teknik-teknik ini memungkinkan arkeolog untuk memahami lebih dalam tentang sejarah dan kebudayaan masa lalu tanpa merusak atau mengganggu situs bersejarah yang sakral.

Dalam menghadapi dilema ini, arkeolog mempertimbangkan dengan seksama etika, keagamaan, dan pertimbangan praktis untuk memutuskan apakah mereka harus membongkar makam kaisar China atau tidak. Meskipun mungkin ada rasa ingin tahu yang besar untuk mengungkap misteri di balik situs bersejarah ini, mereka juga harus menghormati nilai-nilai budaya dan sejarah yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Bikin Ngeri Para Arkeolog

Dibagian lain para arkeolog merasa ngeri membongkar komplek pemakaman Kaisar pertama China Qin Shi Huang. Apa yang membuat mereka merasa ngeri?

Komplek pemakaman itu berada di Distrik Lintong, Xi'an, Provinsi Shaanxi. Makam ini belum pernah diungkap. Arkeolog merasa terlalu takut membongkar situs bersejarah tersebut.

Dikutip dari detikSport, belum pernah ada orang yang mengintip ke dalam makam ini selama lebih dari 2.000 tahun, ketika kaisar yang paling ditakuti itu terkubur di dalamnya. Alasannya karena para arkeolog khawatir tentang bagaimana penggalian bisa merusak makam sehingga kehilangan informasi sejarah yang penting.

Dikutip dari IFL Science, situs ini pertama kali terungkap pada tahun 1974. Sekelompok petani mendapati salah satu penemuan arkeologi terpenting sepanjang masa di sebuah ladang sederhana di provinsi Shaanxi, China. Saat digali, mereka menemukan pecahan patung manusia yang terbuat dari tanah liat.

Ini hanya bagian kecil dari temuan tersebut. Penggalian lebih lanjut yang dilakukan tim arkeologi mengungkapkan bahwa ladang tersebut rupanya berada di atas sejumlah lubang yang penuh sesak dengan ribuan model patung tentara dan kuda perang seukuran aslinya, belum lagi patung para pejabat terhormat, dan hewan lainnya.

Tampaknya misi Tentara Terakota ini adalah untuk menjaga makam Qin Shi Huang di dekatnya, kaisar pertama dari dinasti Qin yang memerintah dari tahun 221 hingga 210 SM.

Sebagian besar pekuburan yang mengelilinginya telah dieksplorasi. Namun makam Kaisar Qin Shi Huang tidak pernah dibuka, dan banyak mitos serta intrik mengelilinginya.

Kaisar yang Ingin Hidup Abadi

Sosok Qin Shi Huang sangat fenomenal dan dikenal dengan keinginannya yang ingin hidup abadi. Padahal, kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh setiap makhluk hidup.

Qin Shi Huang berkuasa pada 221 SM atau di usianya yang baru 13 tahun. Kekaisaran China di bawah kepemimpinan dia berhasil melakukan pencapaian besar.

Ia berhasil membangun angkatan perang yang optimal. Angkatan perang ini kemudian menjadi ujung tombak kejayaan Kekaisaran China. Berkat militer yang baik, Qin berhasil melakukan perluasan wilayah dan menyatukan seluruh kekaisaran lokal China menjadi satu kekaisaran tunggal. Tercatat wilayahnya sampai ke Hong Kong dan Mongolia.

Saking luas wilayahnya, Qin membuat jalan raya yang terintegrasi. Ini dimaksudkan untuk mempermudah mobilitas. Tak hanya itu, dia juga tercatat membuat sistem penyetaraan alat tukar dan pengukuran pertama di dunia.

 

Pencapaian terbesarnya dan masih bisa kita lihat hingga sekarang adalah memerintahkan pembangunan benteng besar yang kini dikenal sebagai Tembok Besar China. Benteng yang berdiri sepanjang 21.196 km itu dimaksudkan untuk menahan serangan suku bar-bar dari Utara China.

Dikutip dari BBC, kesuksesan dan kejayaan itu membuatnya berpikir melawan takdir. Ia ingin bisa hidup abadi. Bagi Qin, kematiannya akan membuat imperialisme China berakhir.

Untuk merealisasikan ini, dia memerintahkan pejabat, ilmuwan, dan penjelajah China menyebar ke luar negeri mencari ramuan ajaib panjang umur. Sampai akhirnya, satu diantara mereka menemukan ramuan yang konon membuat raja kuno hidup 10 ribu tahun. Caranya, dengan menenggak merkuri.

Qin lantas percaya dan segera meniru hal serupa. Dia tidak tahu kalau merkuri adalah zat berbahaya. Dia lantas memodifikasinya dengan mencampurkan merkuri ke cairan fermentasi anggur dan madu. Ramuan ini kemudian rutin diminumnya.

Tak lama setelah rutin menenggak ramuan itu, Qin mengalami delusi, yakni kondisi di mana penderitanya tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak. Qin kemudian bertemu dengan ketakutan terbesarnya, yakni kematian. Alih-alih berusia panjang dan tidak mati, Qin justru meninggal di usia yang sangat muda, yakni 49 tahun.

Obsesi Qin untuk tetap abadi tak berhenti sampai di situ. Obsesi ini diteruskan penguasa lain dengan membanjiri area bawah tanah pemakaman Qin dengan merkuri. Tujuannya agar makamnya tidak terjamah dan tidak dirusak sama sekali.

Dalam studi "Mercury as a Geophysical Tracer Gas - Emissions from the Emperor Qin Tomb in Xi´an Studied by Laser Radar" yang dipublikasikan di Nature pada 2020, berdasarkan pencitraan laser terungkap kalau udara di area pemakaman Qin sangat tercemar oleh merkuri.

Tak hanya udara, tanah di gundukan pemakaman juga mengandung konsentrasi merkuri jauh di atas batas normal dan tempat lain di sekitarnya. Fakta ini membuat para arkeolog percaya kalau tubuh kaisar pertama itu tergeletak di tengah genangan merkuri yang luas.

"Merkuri yang sangat mudah menguap mungkin keluar melalui retakan, yang berkembang dalam struktur dari waktu ke waktu, dan penyelidikan kami mendukung catatan sejarah kuno di makam tersebut, yang diyakini tidak pernah dibuka atau dijarah," kata peneliti dalam makalah mereka.

Atas dasar inilah, sejak meninggal tahun 210 SM dan ditemukan kembali makamnya pada 1974, peristirahatan terakhir Kaisar Qin tak bisa dibongkar. Dikhawatirkan kandungan merkuri akan merusak tubuh para peneliti, sekaligus juga merusak makam yang telah berumur ribuan tahun itu.***

Terkini