JAKARTA (SURYA24.COM)– Manusia memang kerap mengotori lautan lantaran membuang banyak sampah sembarangan. Selain mengotori laut, sampah-sampah tersebut memang membayahakan bagi biota laut.
Pasalnya, ada bahan-bahan kimia yang seharunya tidak dikonsumsi mahluk hidup tapi tercampur di lautan dan dikonsumsi oleh biota laut. Nah, salah satu yang mengejutkan adalah salah satu bahan berbahaya yang dibuang ke laut adalah narkoba, Kokain.
Selama beberapa dekade, kumpulan besar kokain telah terdampar di pantai Florida, diselundupkan dari Amerika Selatan dan Tengah. Narkoba ini pun sering dibuang ke laut, baik untuk diberikan kepada penyelundup, maupun untuk menghindari penegakan hukum. Pada Juni, Penjaga Pantai di Amerika menyita lebih dari 14.100 pon atau 6.400 kilogram kokain di Laut Karibia dan Samudra Atlantik, dengan perkiraan nilai USD186 juta.
Dengan begitu banyak kokain yang memasuki perairan, salah satu peneliti, Tom "The Blowfish" Hird, ingin mengetahui apakah ribuan hiu di lepas pantai Florida menelan narkotika yang dibuang. Jika iya, apakah obat itu berdampak pada mereka. Oleh karena itu, dia dan ilmuwan Universitas Florida Tracy Fanara melakukan serangkaian eksperimen untuk mencari tahu.
"Bagaiamana cara bahan kimia, obat-obatan, dan obat-obatan terlarang memasuki saluran air kita, memasuki lautan kita dan apa pengaruhnya kemudian terhadap ekosistem laut yang rapuh ini," kata Hird kepada Live Science seperti dilansir okezone.com.
Hird dan Fanara pun melakukan penelitian di Florida Keys, dimana para nelayan bercerita tentang hiu yang mengonsumsi kokain yang dibuang ke wilayah tersebut melalui arus laut. Tim itu pun menyelam untuk mengecek bagaimana hiu berinteraksi, dan mulai melihat hiu bertindak dengan cara yang tidak terduga.
Seekor hiu martil besar (Sphyrna mokarran), spesies yang biasanya mewaspadai manusia, datang langsung ke tim dan tampaknya berenang dengan santai. Di sebuah kapal karam 60 kaki (18 meter) di bawah permukaan, Hird bertemu dengan hiu gundukan pasir (Carcharhinus plumbeus) yang tampaknya terpaku pada sesuatu dan berenang dalam lingkaran yang rapat, meskipun tidak ada yang terlihat.
Hird dan Fanara merancang tiga eksperimen untuk melihat bagaimana hiu bereaksi terhadap bal "kokain" yang dijatuhkan ke dalam air. Mereka membuat paket yang ukuran dan tampilannya mirip dengan bal kokain asli.
Mereka pun meletakkan bal semu ini di sebelah boneka angsa untuk melihat ke mana hiu itu pergi. Yang mengejutkan mereka, hiu langsung menuju bal, menggigitnya. Seekor hiu bahkan mengambil bal tersebut dan berenang bersamanya.
Percobaan selanjutnya, mereka membuat bola umpan dari bubuk ikan yang sangat pekat, yang akan memicu dopamin sedekat mungkin dengan serangan kokain asli dan hiu pun terlihat liar.
"Saya pikir kami memiliki skenario potensial tentang bagaimana jadinya jika Anda memberikan kokain kepada hiu. Kami memberi mereka apa yang saya pikir adalah hal terbaik berikutnya. [Itu] membuat otak [mereka] terbakar," jelas dia.
Akhirnya, tim menjatuhkan bal kokain palsu mereka dari pesawat terbang untuk mensimulasikan penurunan narkoba di kehidupan nyata dan beberapa spesies hiu, termasuk hiu macan (Galeocerdo cuvier), bergerak mendekat.
Meski demikian, Hird mengatakan bahwa apa yang mereka temukan tidak serta merta menunjukkan bahwa hiu di Florida mengonsumsi kokain. Banyak faktor yang dapat menjelaskan perilaku ini, dan eksperimen ini perlu diulangi berulang kali untuk menarik kesimpulan lengkap.
Namun, dia berharap pertunjukan itu akan mengarah pada penelitian lebih lanjut di daerah tersebut. Mereka pun ingin melakukan lebih banyak tes, termasuk sampel jaringan dan darah, untuk mengetahui apakah ada bukti kokain di tubuh hiu ini.
Dan bukan hanya kokain yang mungkin menjadi masalah, ada hal lain yang mungkin menjadi masalah juga. "Seperti tetesan obat-obatan: kafein, lidokain, kokain, amfetamin, antidepresan, alat kontrasepsi yang mulai menyerang hewan-hewan ini," tuturnya.
Lebih Pintar, Benarkah?
Dibagian lain,ada banyak hal yang bisa menunjukkan kecerdasan atau kecakapan seseorang, misalnya kemampuannya dalam memecahkan masalah, kesuksesannya di bidang akademik, dan lain-lain. Selain itu, ada kepercayaan yang mengatakan bahwa tingkat kecerdasan seseorang dapat dilihat dari ukuran kepalanya; semakin besar, semakin pintar. Benarkah demikian? Ukuran kepala dengan tingkat kepintaran Melansir BBC Science Focus Magazine, ada korelasi antara ukuran otak dan kecerdasan manusia (yang diukur dengan tes IQ), meskipun sederhana.
Tetapi, tulis kompas.com, tentu saja, korelasi ini tidak menyiratkan sebab-akibat dan ada banyak alasan untuk berhati-hati dalam menginterpretasikan hubungan tersebut. Baca juga: 13 Tanda Kamu Orang yang Cerdas Sebagai permulaan, korelasi sederhana didasarkan pada rata-rata banyak orang, dan ukuran kepala atau ukuran otak tidak akan menunjuk apa pun tentang kecerdasan individu tertentu. Pertimbangkan juga bahwa banyak hewan memiliki otak yang secara dramatis lebih besar daripada otak manusia, namun mereka tidak dianggap secerdas manusia.
Misalnya, gajah dan paus memiliki otak yang kira-kira enam kali lebih besar dari otak manusia. Di sisi lainnya, ada banyak hewan yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, meskipun memiliki otak yang kecil. Misalnya, lebah dapat mengingat lokasi bunga yang tak terhitung jumlahnya di area seluas beberapa km persegi.
Sebagian besar ahli setuju bahwa untuk perihal kecerdasan, yang lebih penting daripada volume otak secara keseluruhan adalah efisiensi saraf (seberapa cepat dan andal neuron berkomunikasi satu sama lain) dan sifat serta jangkauan konektivitas antara wilayah otak utama.
Cara meningkatkan kecerdasan menurut sains Berikut adalah beberapa cara menjadi lebih pintar menurut sains.
- Bermain video game
Baru-baru ini, tepatnya pada tahun 2020, para peneliti yang berbasis di Karolinska Institute, Swedia, melihat data dari sekitar 9.000 anak-anak Amerika dan menemukan bahwa anak-anak berusia 9 atau 10 tahun yang bermain video game untuk waktu di atas rata-rata tidak menunjukkan perbedaan tingkat kecerdasan dibandingkan dengan anak-anak yang bermain lebih sebentar.
Dua tahun kemudian, studi yang melibatkan 5.000 anak-anak menemukan bahwa pada usia 12 tahun, anak-anak yang bermain video game memiliki 2,5 poin IQ lebih tinggi dari rata-rata. Sejalan dengan ini, sebuah studi terhadap hampir 45.000 peserta yang diterbitkan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa meskipun ada sedikit manfaat kognitif dari bermain game pelatihan otak, hasilnya tidak signifikan jika dibandingkan dengan efek video game pada umumnya.
- Tidur siang
Banyak ilmuwan dan seniman terkenal mengandalkan tidur siang untuk mempertajam pikiran mereka, memecahkan masalah, atau menghasilkan ide. Penelitian modern pun telah memvalidasinya melalui makalah yang menunjukkan peningkatan dalam berbagai keterampilan kognitif setelah tidur siang. Dr. Delphine Oudiette dari Paris Brain Institute menyusun sebuah studi untuk menguji apakah micronap dapat meningkatkan kreativitas. Dr. Oudiette mempresentasikan peserta studi dengan masalah matematika dan, jika mereka tidak bisa menyelesaikannya, mereka diminta untuk berbaring di kursi dan beristirahat. Setelah istirahat, orang-orang yang terhanyut ke tahap 1 tidur tiga kali lebih mungkin menyelesaikan masalah daripada orang yang tidak tidur siang.
- Berpikir lebih terbuka
Semakin tua, kita cenderung semakin berpikiran tertutup dan terjebak dalam cara dan keyakinan kita. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mencari pengalaman dan perspektif baru. Misalnya, cobalah tempat makan yang berbeda setiap kali makan di luar atau mengunjungi destinasi yang berbeda untuk liburan, alih-alih selalu kembali ke tempat yang sama.
- Olahraga teratur
Olahraga sangat penting karena sejumlah alasan. Pertama, oksigen mengoksigenasi darah. Otak bekerja dengan glukosa beroksigen, dibawa oleh hemoglobin dalam darah, dan suplai oksigen segar. Alasan kedua adalah bahwa otak kita, karena diciptakan untuk bernavigasi di lingkungan yang asing, tidak bekerja dengan baik ketika tidak ditantang dengan keharusan memecahkan masalah.
Misalnya, saat kita berjalan di jalan yang tidak beraspal, baik di taman atau di hutan belantara, kita harus melakukan ratusan penyesuaian mikro terhadap tekanan, sudut, dan kecepatan kaki. Penyesuaian ini merangsang sirkuit saraf otak dengan cara yang tepat. Area yang paling terstimulasi adalah hippocampus, yakni struktur yang penting untuk pembentukan dan pengambilan memori. Inilah sebabnya mengapa begitu banyak penelitian menunjukkan bahwa memori dapat ditingkatkan dengan aktivitas fisik.
- Makan ikan
Otak adalah organ yang selalu lapar. Meski hanya menghasilkan sekitar 2 persen dari keseluruhan berat badan, otak mengonsumsi sekitar 20 persen dari total kebutuhan energi tubuh. Bukan hanya energi yang dibutuhkan otak untuk berfungsi dengan baik. Mikronutrien dalam jumlah yang cukup juga sangat penting untuk otak yang sehat.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kekurangan nutrisi berkontribusi pada kesehatan otak dan mental yang buruk. Selain itu, selama rentang hidup manusia, nutrisi selalu berperan penting dalam struktur otak dan kesehatan mental.***