Oleh Ridwan Safri
SENTUHAN kepedulian dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Dumai atau Kilang Pertamina Dumai melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), berhasil menumbuhkan pengusaha mandiri. Program CSR menjadi bentuk nyata dari komitmen Kilang Dumai terhadap Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perusahaan.
PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Refinery Unit II Dumai berkomitmen memperkuat perannya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, termasuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, peternak, nelayan, pendidikan, bantuan sosial, olahraga dan lainnya.
Langkah ini menjadi wujud nyata kepedulian Kilang Dumai dalam mendorong kemandirian serta pertumbuhan ekonomi masyarakat. Seperti pelaku UMKM agar semakin berdaya saing, dan adaptif di tengah dinamika pasar yang kompetitif.
Dukungan tersebut secara konsisten diwujudkan melalui penyediaan ruang promosi pada berbagai kegiatan internal perusahaan serta sinergi berkelanjutan dengan Rumah BUMN Dumai. Kehadiran Rumah BUMN Dumai juga menjadi wujud dukungan Kilang Pertamina Dumai sebagai bagian dari lini bisnis Pertamina yang berperan sebagai penggerak utama pengembangan UMKM di wilayah Kota Dumai.
Rumah BUMN Dumai menjadi wadah peningkatan kapasitas, perluasan jejaring, serta penguatan daya saing bagi pelaku UMKM lokal agar mampu bertumbuh secara mandiri dan berkelanjutan. Saat ini terdapat sekitar 200 UMKM mitra binaan Rumah BUMN Dumai yang bergerak dari berbagai sektor usaha, mulai dari usaha kuliner, produk kreatif, hingga kerajinan lokal yang memiliki potensi pasar menjanjikan.
Seperti yang disampaikan oleh Amelia, bahwa Dia bergabung di Rumah BUMN binaan Pertamina itu sejak tahun 2019 pada saat Covid 19. Sejak itu Ia makin aktif karena disitu bisa masih tetap punya kegiatan. Karena tak bisa kegiatan yang lain pada saat Covid yang mengharuskan berkegiatan di rumah.
" Kami UMKM di Dumai yang dibina oleh Pertamina melalui Rumah BUMN mengikuti pelatihan-pelatihan seperti membuat kerajinan tangan dari bahan lidi sawit yang berdaya guna yang bisa dijual, yang penting ada kegiatan yang dapat menghasilkan uang. Ada pelatihan-pelatihan yang terus diadakan oleh Rumah BUMN dengan narasumber yang berkompeten. Ada pelatihan tentang pembukuan, tentang media sosial, dan banyaklah pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Rumah BUMN Pertamina Dumai. Saya sekarang menjalankan usaha kuliner dan kerajinan tangan yang dibina oleh Rumah BUMN ini, ada tas rajut dan steak kentang. Itu saya kerjakan di rumah. Saya ada katering juga pak. Memang saya usaha di kuliner. Setelah dibina oleh Pertamina orderan saya semakin banyak. Jadi kalau tas ini dulu juga pernah di pasarkan di City Mall, tapi di sana kan sudah sepi pembeli, maka dari itu tidak dilanjutkan lagi, " ujar Amelia kepada Surya24.com, Rabu (15/10/2025) saat media ini berkunjung ke pelaku usaha UMKM itu di kediamannya.
Amelia menceritakan awalnya membuka usaha ini dengan membeli benang, coba-coba sendiri. Dia belajar otodidak, dan belajar terus. " Setelah dibina Pertamina selama ini ya Alhamdulillah bisa, " katanya mengenang awal dari membuka usaha itu.
Sekarang, kata Amelia, pemasarannya juga dibantu Pertamina, kadang-kadang ada bazar. Karena Pertamina sering mengadakan acara atau kegiatan. Mereka diundang untuk bazar, nanti ada tamu-tamu Pertamina. Produk mereka juga di ekspor. Amelia menekuni usaha ini sejak tahun 2015. Sebelum usaha steak kentang, awalnya dia punya usaha keripik labu.
" Dari labu itu saya buat keripik. Setelah itu saya kembangkan keripik kentang. Setelah bergabung di Rumah BUMN Pertamina Dumai ada peningkatan dari sebelumnya. Saya juga masuk dalam UMK Academy Pertamina. Saat ini Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI atau HaKI) usaha saya lagi dibantu Pertamina. Ada 3 UMKM di Dumai yang dibantu pengurusan HaKI, salah satunya saya, " terangnya.
Amelia mengakui, saat ini semakin mudah dan semakin bisa mengikuti perkembangan karena sekarang banyak makanan kekinian tapi tetap semakin bagus jalannya setelah dibantu oleh Rumah BUMN Dumai. Semakin hari semakin meningkat. Mereka memiliki berbagai jenis usaha.
" Sekali dalam sebulan kami ada pelatihan di Rumah BUMN Dumai. Berbagai macam pelatihan. Kadang-kadang ada pelatihan cara pengolahan, tentang pemasaran dan lainnya. Kita gak tau jadi tau lagi, dapat ilmu lagi, dan dapat ilmu lagi. Mungkin sebelumnya hanya satu, jadi bertambah pengetahuan baru lagi, ya kayak gitulah. Misalnya kita gak bisa ini, nanti setelah diberi pelatihan kan jadi bisa. Misalnya kita gak bisa rajut nanti bisa rajut. Kita belajar, belajar dan belajar, akhirnya kita bisa, " katanya. 
Foto : Pelatihan yang didakan oleh Rumah BUMN bertujuan membantu UMKM dalam menyusun SOP yang efektif, agar usaha semakin terarah, profesional, dan siap naik kelas.
Untuk pasar, kata Amelia, selain di Dumai ada keluar daerah juga seperti tas rajut dan lainnya. Kalau makanan yang terbuat dari kentang ini ada juga di pasarkan keluar kota. Kadang orang dari luar kota itu sendiri yang datang membeli langsung ke rumah Amelia.
" Ya Alhamdulillah Pak, ada bazar juga sampai ke Malaysia produk kami dibawa oleh Pertamina. Kadang-kadang UMKM ikut langsung di bawa sama Pertamina. Dari pengusaha UMKM yang ikut langsung dibawa tiga atau empat orang. Ya sudah langsung dibawa orangnya sama pengurus Rumah BUMN Dumai. Misalnya mereka ke Pekanbaru atau ke Malaysia ada bazar gitu kan. Ongkos ditanggung mereka. Yang penting kita siapkan produknya. Kita nggak mau tahu lagi, mereka semuanya yang tanggung biaya keberangkatan. Biasanya berangkatnya sekita 4 hari kalau ke luar negeri, " terang Amelia.
Selain itu, Rayni Yolanda salah seorang UMKM Tahu Bakso Uenak di Jalan Gunung Merbabu, Kelurahan Bumi Ayu mendapat bantuan dari Pertamina melalui Rumah BUMN Dumai berupa alat penggilingan bakso. Yolanda sebelumnya tidak punya alat penggilingan ini. Dia selalu mengupah untuk menggilingkan bakso tersebut.
" Selain diberi bantuan saya juga diberi pelatihan untuk memasarkan produk melalui seminar-seminar yang diadakan oleh Rumah BUMN Dumai. Saya juga dibantu pembuatan Nomor Indik Berusaha atau NIB, Sertifikat Halal, pembuatan HaKI, didaftarkan merek dagang. Kalau dibuat sendiri harganya lumayan mahal. Proses pembuatannya memakan waktu 1 tahun. Setelah dibantu oleh Pertamina melalui Rumah BUMN Dumai, produksi Tahu Bakso saya saat ini bisa mencapai 2000 tahu bakso perhari. Sangat membantu sekali, karena awalnya saya hanya modal 400 ribu, tapi saat ini sudah berkembang sangat jauh, " sebut Yolanda.
Selain itu, kata Yolanda, sisa minyak penggorengan atau minyak jelantah juga dibeli oleh Rumah BUMN. Mereka menggoreng tahu setiap hari dan minyak jelantah bisa dibeli lagi oleh Rumah BUMN. Dikasi 2 buah jerigen nanti kalau sudah penuh di jemput kerumah oleh petugas Rumah BUMN. " Satu jerigen itu harganya tiga ratus lebih, jadi kalau sudah ada dua jerigen lumayan juga, padahal sebelumnya tak laku dan dibuang saja, " kata Yolanda.
Mereka juga diberi kesempatan untuk mengikuti ekspo atau pemasaran produk mereka yang direkomendasikan oleh Rumah BUMN.
Selain itu, Wagini salah seorang usaha dodol nenas dan keripik pisang menyebutkan, salah satu bantuan dari Rumah BUMN binaan Kilang Pertamina Dumai itu selain pelatihan, juga ada studi banding.
Dodol Nenas ini, kata Wagini telah berdiri dari tahun 2010. Dibina oleh Rumah BUMN dari tahun 2019. " Alhamdulillah setelah melalui pembinaan oleh Rumah BUMN Pertamina kita yang awalnya belum paham digital, Alhamdulillah sekarang sudah mulai paham pak, walaupun masih sedikit-sedikit, " katanya.
Kalau untuk orderan diluar kota, Wagini menyebutkan belum sanggup, karena pengerjaan usahanya ini masih manual. " Kemarin ada sih orang dari Malaysia berkunjung juga ke rumah saya. Dia meminta di ekspor ke Malaysia, cuma kami yang gak sanggup Pak. Karena kami mengerjakannya masih manual, jadi kami takut tidak memenuhi target. Karena keterbatasan alat l-alatnya, " sebut Wagini.
Selain pelatihan, kata Wagini Pertamina juga memberikan bantuan modal. Usaha Wagini selain dodol juga ada usaha keripik pisang. Wagini, owner dari dodol Nanas khas Dumai menerangkan bahwa membuat dodol nanas khas Dumai dengan penuh cita rasa dengan bahan baku nenas segar. Dia mengolahnya menjadi dodol yang manis, legit dan tentu saja khas Dumai.
" Saya berharap semoga terus berkembang. Untuk itu saya bergabung dalam program CSR Pertamina. Saya percaya lewat program ini akan ada banyak ilmu dan pengalaman berharga yang bisa mendukung usaha kecil kami. Harapan saya, dengan pendampingan dari CSR Pertamina, produk ini bisa dikenal lebih luas, memberi manfaat bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar. Inilah dia Dodol Nenas khas Dumai dari usaha bersama Wagini bersama CSR Pertamina. Semoga usaha kecil ini terus tumbuh berdaya dan memberi inspirasi. Terima kasih kepada Kilang Pertamina Internasional (KPI) Dumai melalui Rumah BUMN yang telah memberi support kepada kami, " pungkasnya. 
Foto : Area Manager Communications, Relations & CSR Kilang Dumai, Agustiawan.
Sementara itu, Fasilitator Rumah BUMN Kilang Pertamina Internasional (KPI) Dumai
Raffi Pawitra yang mendampingi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) khususnya binaan Pertamina mengatakan, selama ini mendata UMKM di Dumai ada sebanyak 1000 UMKM, tapi yang aktif sekitar 200 UMKM.
" Yang dibina oleh Rumah BUMN selama ini, seperti pendampingan legalitas usaha, pengemasannya, dan pemasarannya. Kalau legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Sertifikat Halal itu gratis tanpa di pungut biaya. Itu bantuan yang kami berikan kepada pelaku usaha. Di tahun ini yang mengikuti UMK Academy 2025 sebanyak 13 UMKM binaan, yang lolos ke seleksi secara nasional ada 7 UMKM dari 13 UMKM yang ikut. Jadi ada UMKM yang kami bina itu seperti UMKM Tahu Bakso yang telah memproduksi sehari itu sampai 2000 box. Produksi sebelumnya hanya ratusan. Bisa membantu untuk menambah produksi. Ada juga kerajinan-kerajinan dari bahan lidi sawit yang dibuat oleh UMKM. Kita juga berkolaborasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Kota Dumai. Dari Pertamina juga ada permintaan pengadaan souvenir yang bisa dibuat oleh UMKM ini, sehingga dapat membantu para UMKM, " tutur Raffi Pawitra.
Pada beberapa kesempatan, Pertamina turut melibatkan para pelaku UMKM yang juga mitra binaan Rumah BUMN Dumai dalam berbagai kegiatan internal perusahaan, seperti Fun Bike dan sejumlah kegiatan lainnya.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI RU II Dumai, Agustiawan menyebutkan Pertamina juga melibatkan mereka pada kegiatan Dumai Expo lalu untuk memasarkan produknya. " Hal Ini menjadi upaya kami untuk memberikan ruang promosi dan memperluas jangkauan akses pasar untuk produk-produk mereka agar semakin dikenal luas masyarakat,” jelas Agustiawan.
Agustiawan menekankan, dukungan tersebut merupakan wujud komitmen Kilang Dumai untuk memberikan dampak positif dan nilai tambah bagi masyarakat sekitar sekaligus menciptakan ekosistem pemberdayaan UMKM yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini turut menjadi bagian integral dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dan implementasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang dijalankan secara berkelanjutan.
Fasilitas Rumah BUMN yang diresmikan oleh Vice President CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero), Rudi Ariffianto, pada 29 April 2025, dilengkapi dengan ruang pelatihan dan area promosi sekaligus layanan pendampingan sertifikasi—meliputi legalitas usaha, sertifikasi halal, hingga pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB)—yang dirancang untuk meningkatkan profesionalisme dan daya saing UMKM agar mampu menembus pasar nasional maupun global.
“Pendampingan yang kami berikan melalui tim Rumah BUMN Dumai dalam pengurusan izin legalitas usaha ini nantinya akan memberi banyak nilai tambah bagi UMKM. Legalitas ini tidak hanya memperkuat pengembangan usaha dan kepercayaan konsumen, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi mereka untuk memperoleh akses pembiayaan dari lembaga perbankan,” jelasnya.
Belum lama ini, Kilang Pertamina Dumai dan Rumah BUMN Dumai juga melaksanakan kegiatan pendampingan bagi mitra UMKM melalui program pelatihan peningkatan pengetahuan dan pengembangan usaha bertepatan dengan rangkaian program Pertamina UMK Academy 2025, bertempat di Rumah BUMN Dumai pada Kamis (25/9).
Pelatihan ini diikuti oleh sejumlah pelaku UMKM mitra binaan Pertamina yang antusias dalam menggali ilmu baru untuk pengembangan bisnisnya. Materi yang disampaikan meliputi strategi pengembangan usaha melalui Business Model Canvas serta strategi membangun UMKM tangguh dengan keterampilan komunikasi bisnis yang efektif.
Melalui kegiatan ini, para pelaku UMKM diharapkan dapat memperluas wawasan terkait penyusunan model bisnis yang lebih terarah, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi dalam membangun kemitraan dan menghadapi tantangan usaha. Inisiatif ini turut menjadi bagian dari dukungan Kilang Pertamina Dumai terhadap capaian agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta tujuan ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Sejumlah UMKM di Dumai kembali mengikuti pelatihan yang di gelar oleh Rumah BUMN pada hari Jum'at tanggal 17 Oktober 2025 untuk meningkatkan kualitas dan kinerja usaha UMKM.
Kegiatan yang diadakan di Rumah BUMN Dumai di Jalan Sultan Syarif Kasim itu mengangkat Tema, " Stategi Menyusun SOP (Standard Operational Procedure) Bagi UMKM untuk Peningkatan Usaha". 
Foto : Pengurus Rumah BUMN Pertamina Dumai saat berkunjung ke UMKM Tahu Bakso Uenak di Jalan Gunung Merbabu, Kelurahan Bumi Ayu.
Narasumber, Erikson Marbun, S.Si., M.Si mengatakan, Pelatihan ini bertujuan membantu UMKM dalam menyusun SOP yang efektif, agar usaha semakin terarah, profesional, dan siap naik kelas.
" Sebelum membuat satu usaha, ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mesti siapkan. Makanya perlu diatur sehingga kita punya koridor dalam berusaha termasuk mengenai harga dan lain sebagainya. SOP itu mampu untuk meningkatkan produksi, bahkan mungkin produk yang dihasilkan itu bisa dikenal luas. Selain itu, sebenarnya berpotensi juga bila kita bisa menciptakan mitra yang bisa bekerjasama dengan kita. Andaikata mungkin pada suatu ketika dia banyak orderan dan nggak terlayani, dia akan menawarkan kepada kita. Jadi hal-hal itu yang harusnya dipikirkan para pengusaha, " terang Erikson.
Erikson Marbun selaku Narasumber juga menyebutkan UMKM harus realistis dalam berusaha agar bisa meningkatkan usaha itu lebih baik. Bahkan banyak perusahaan-perusahaan besar di Dumai, UMKM tidak perlu bersaing tapi akan lebih baik bila bermitra dengan mereka. Supaya usaha UMKM itu juga terdongkrak dan maju.
" Kita juga perhatikan dari hal-hal itu supaya kita sama-sama dalam melakukan usaha itu mestinya bisa sama-sama mendapat keuntungan, " ajaknya.
Selain itu, Marbun juga berpesan untuk menjaga lingkungan hidup agar mengurangi penggunaan plastik. " Kita harus memperkecil volume sampah dan berharap agar kita lebih peduli dengan sampah atau limbah hasil produksi kita. Jadi kita mau dari pada pengusaha juga lebih perhatian terhadapat sampah, karena produk kita menghasilkan sampah, " kata Erikson.
Selaku Narasumber Erikson mengedukasi mereka bahwa sejumlah produk UMKM ini ada plastiknya, agar jangan dibakar, tidak dibuang sembarangan atau ada sejumlah sampah yang bisa dipisahkan.
Keberadaan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) di lingkungan beroperasi juga telah memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. Hal ini juga yang dilakukan oleh Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui unit operasinya Kilang Dumai. Salah satu cerita perubahan di masyarakat dilahirkan Kilang Dumai melalui program terintegrasi Bedelau Minapolitan.
"Program Bedelau Minapolitan lahir dari sebuah evaluasi terhadap potensi dan kondisi yang ada di masyarakat yang berpadu dengan keinginan masyarakat untuk tumbuh mandiri," ujar Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani.
Milla menjelaskan program Bedelau Minapolitan terdiri dari beberapa sub program yang terintegrasi dan saling mendukung. Sub program itu diantaranya budidaya ikan air tawar, Green Laundry, Posyandu ibu dan anak, Masyarakat Peduli Pesisir dan Pertanian Sorgum.
"Program-program ini dilaksanakan untuk menjawab tantangan dan potensi alam yang ada di sekitar pesisir pantai yang juga menjadi wilayah operasi Kilang Dumai. Dari program-pogram ini juga lahir lokal hero yang dapat menjadi inspirasi," kata Milla.
Ramli contohnya. Hampir setengah abad, Ramli bersahabat dengan laut. Ia adalah warga Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Provinsi Riau. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Selat Malaka, membuat Ramli akrab dengan samudera sejak masih belia. “Saya sudah melaut sejak usia 12 tahun, berangkat pagi hari jam 7, pulangnya bisa sampai sore hari,” tutur Ramli yang kini berusia 61 tahun.
Dia melaut tidak untuk mencari ikan, melainkan menjual berbagai macam barang kepada awak dan penumpang kapal yang lewat, seperti kebutuhan sehari-hari, bahan makanan, minuman hingga buah-buahan yang dibawa dari daratan. 
Foto : Amelia, UMKM Kerajinan tangan Tas Rajut dan Steak Kentang
Namun, pekerjaan ini sangat berbahaya. Risiko tersapu gelombang atau tertabrak kapal ada di depan mata. Belum lagi cuaca buruk yang mengintai dan bisa muncul kapan saja. Untuk menyambung hidup, Ramli dan rekannya Nazaruddin sempat banting setir membudidayakan lele.
Namun karena modal dan pengetahuannya terbatas, hasilnya kurang memuaskan, sebagian besar ikannya mati. Ramli dan Nazaruddin langsung merangkul nelayan lainnya dan terbentuklah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Palas Jaya yang beranggotakan 16 orang. Nazaruddin didapuk menjadi ketua pokdakan dan Ramli sebagai bendaharanya. Kelompok ini akhirnya menjadi mitra binaan Kilang Dumai.
“Kami tergerak karena para nelayan tersebut sudah lama hidup dalam kondisi yang berkekurangan, hingga terpaksa menjalani pekerjaan yang berbahaya. Dengan Program Bedelau Minapolitan, kami berharap bisa membantu mereka keluar dari jeratan ekonomi dan menjadi masyarakat yang mandiri,” ujar Area Manager Communications, Relations & CSR Kilang Dumai, Agustiawan.
Menurut Agustiawan, bantuan yang diberikan KPI pada Pokdakan Palas Jaya dilakukan secara bertahap. Tak hanya berupa peralatan dan bibit, anggota pokdakan juga mendapatkan bantuan pelatihan menernak ikan lele agar hasilnya maksimal.
Keberhasilan Ramli dan Pokdakan Palas Jaya sampai ke telinga Risman. Ia lalu mengajak 15 orang temannya di Kelurahan Tanjung Palas membentuk Kelompok Barter Jaya. Tidak seperti Ramli, Risman dan rekan-rekannya memilih untuk menjalankan usaha binatu atau laundry dengan konsep ramah lingkungan. Pada 2023, berdirilah Betuah Laundry yang mengusung konsep Green Laundry pertama di Dumai.
“Green laundry merupakan kelanjutan dari program budidaya ikan lele di Kelurahan Tanjung Palas, sekaligus memperluas penerima manfaat Program Bedelau Minapolitan. Betuah Laundry jadi pelopor binatu ramah lingkungan, dimana KPI juga fokus pada masalah tersebut,” tutur Agustiawan.
Risman menjelaskan, anggota Kelompok Barter Jaya membuat sabun sendiri menggunakan bahan organik, yakni rumput teki. Kemampuan Risman dan kawan-kawan dalam mengubah rumput teki menjadi sabun juga didapat dari pelatihan yang difasilitasi Kilang Dumai.
“Sesuai namanya, Bedelau yang berarti berkilau dalam bahasa Dumai, Program Bedelau Minapolitan menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara inovasi sosial dan komitmen lingkungan dapat menciptakan dampak berkelanjutan. KPI tidak hanya mengubah wajah pesisir Dumai, tetapi juga memberi harapan baru bagi masa depan masyarakat sekitar yang lebih hijau, inklusif dan sejahtera,” tutup Agustiawan.
Selain itu, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) juga memberi perhatian dan membantu para petani yang ada di Dumai.
Di atas lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kini telah hijau ditumbuhi berbagai tanaman hortikultura, tumbuh sebuah harapan baru bagi masyarakat di Kota Dumai. Melalui program Pemberdayaan Petani Lahan Gambut, PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Unit Dumai atau Kilang Pertamina Dumai menghadirkan energi perubahan sekaligus memberikan manfaat nyata kepada petani-petani lokal.
Program ini merupakan bagian dari komitmen TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan, pembangunan ekonomi lokal, dan rehabilitasi lahan pasca-Karhutla.
Dirintis bersama Kelompok Masyarakat (Pokmas) Alam Tani pada 2022, program awalnya difokuskan pada penataan lahan pasca-Karhutla. Memasuki tahun berikutnya, program mulai berkembang dengan membudidayakan sorgum serta tujuh varietas tanaman lainnya, mulai dari cabe, jagung, kacang panjang, kopi, matoa, coklat, hingga okra yang bernilai jual tinggi karena diminati hingga pasar global, seperti Jepang juga ditanam di lahan tersebut. 
Foto : Ketua Pokmas Alam Tani, Rudi saat berada di kebun Sorgum.
Kelompok yang beranggotakan 17 petani ini berhasil mengelola lahan seluas 10 hektare di kawasan tepian Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur. Satu hektare di antaranya ditanami okra, yang kini menjadi komoditas unggulan karena masa tanamnya singkat dan potensi pasarnya menjanjikan. Pada pekan ketiga Juli lalu, Pokmas Alam Tani berhasil memanen okra sebanyak 20 kg.
Hasil panen dipasarkan ke berbagai pasar tradisional di Kota Dumai, seperti Pasar Pulau Payung, Pasar Bundaran, dan pasar tradisional lainnya, sekitar 45 hari untuk panen pertama. Setelah itu, tanaman akan berbuah kembali dan bisa dipanen lagi hingga 8–9 bulan sebelum diganti tanaman baru. Harga pasarnya pun stabil, berkisar Rp20.000–25.000 per kilogram, sehingga ini cukup menjanjikan.
Rudi, Ketua Pokmas Alam Tani, menceritakan awal kolaborasinya dengan Kilang Pertamina Dumai yang dahulunya adalah seorang petani sawit, kini ia telah bertransformasi menjadi petani yang sukses mengembangkan pertanian di lahan gambut.
" Untuk kegiatan kelompok kami ada bagian pertanian, peternakan dan UMKM. Alhamdulillah untuk kegiatan di pertanian kami dibantu oleh PT Kilang Pertamina Internasional atau KPI mulai dari mesin penyiraman, injektor sampai pengolahan hasil pertanian seperti mesin pengolahan sorgum, mesin penepung, dan mesin untuk pengolahan makanan lainnya. Kemudian sampai dari hasil limbah pertanian masuk lagi ke peternakan, "terang Rudi.
Perlengkapan? kegiatan mereka juga sudah difasilitasi Pertamina dan untuk transportasi saat mereka panen juga dibantu serta dibantu untuk penimbunan jalan di lahan tersebut. Biasanya mereka petani musiman, sekarang sudah menjadi petani permanen dan musim panas tetap bisa berkegiatan.
" Kami dibantu oleh pertamina di bidang peternakan dan pertanian sejak tahun 2002. Bentuk bantuannya kalau di bidang peternakan kami dibantu kambing dan bebek untuk bertelur serta bibit ayam. Kelompok kami ini ada 17 KK terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu mulai dari pertaniannya, peternakan, UMKM sampai ke pemasaran. Jadi dari hulu ke hilir anggota kelompok yang mengerjakan semuanya, " kata Rudi, Ketua Pokmas Alam Tani.
Sebelum ini rata-rata mereka yang masuk kelompok ini bekerja memang sudah menjadi petani juga. " Sebelumnya kami petani miskin ada yang menumpang di tanah milik orang lain. Ada yang bekerja sebagai buruh harian, kadang upah dodos sawit borongan milik orang lain, termasuk saya juga, " kenang Rudi bercerita kepada media ini.
Jadi, setelah dibantu Pertamina, kata Rudi, mereka bisa ngumpul-ngumpul satu wadah, satu kelompok untuk berkegiatan. Dari awal tahun 2022 lahan mereka 1 hektar, dengan perkembangan ekonomi lahan mereka sekarang semakin luas.
" Kebanyakan kami menanam sayur-sayuran, palawija. Ada juga tanaman keras seperti sawit, tumpangsari dengan tanaman palawija. Hasil dari bidang pertanian dikelola lagi oleh UMKM ibu-ibu tadi. Bantuan untuk UMKM dari Pertamina sekarang alhamdulillah mengeluarkan produk olahan dari sorgum, seperti beras sorgum, tepung sorgum, kemudian dari turunan sorgum tadi kita kembangkan lagi membuat mie ayam, " ujar Rudi.
Kemudian mereka bekerjasama juga dengan binaaan Pertamina dari Posyandu Sehati Tanjung Palas. Ada ibu-ibu PKK yang juga mengolah hasil dari panen tadi. Dari kelompok tani sorgum telah dikembangkan lagi oleh ibu-ibu Posyandu itu menjadi mie, terus ada juga kue bolu kukus.
Awalnya mereka mengelola lahan seadanya karena keterbatasan yang ada. Kemudian bertemu salah satu tim CSR Pertamina Dumai yang mengajak mereka berkolaborasi dalam rehabilitasi Karhutla sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian. Sejak itu, semangat mereka tumbuh seiring bantuan, pendampingan, dan pelatihan yang terus diberikan oleh CSR PT KPI RU II Dumai.
" Saya mengucapkan terima kasih atas ketulusan Pertamina Dumai yang telah mengangkat ekonomi kami petani pinggiran dengan menyalurkan dana CSR nya, sehingga dapat membantu kami yang tinggal di pinggiran kota, pinggiran hutan. Terima kasih banyak juga khususnya buat tim Humas dan tim penyaluran CSR Kilang Pertamina Internasional (KPI) Dumai, " kata Rudi kepada media ini saat berkunjung ke rumahnya.
Agustiawan, Area Manager Communication, Relations, & CSR PT KPI RU II Dumai menyatakan bahwa sebagai bagian dari entitas bisnis Pertamina, Kilang Dumai tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga berkomitmen memberikan manfaat dan dampak positif bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi melalui program pemberdayaan dan CSR.
“Sektor pertanian memiliki peranan penting karena menopang ketahanan pangan nasional sekaligus memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Kami sepenuhnya menyadari bahwa peran kami tidak hanya menjaga kelancaran operasi kilang untuk menyediakan energi, dan inisiatif ini merupakan upaya nyata kami di tingkat lokal,” ungkapnya.
Program yang telah berjalan selama kurang lebih 3 tahun ini tak hanya melindungi 10 ha lahan dari ancaman karhutla, tapi juga berdampak pada perekonomian para petani dengan peningkatan pendapatan petani 7 juta perbulan. Selain itu, Kilang Pertamina Dumai juga terus berupaya mendorong peningkatan pendapatan, hal tersebut melalui pelatihan diversifikasi produk, salah satunya Sorgum.
Pada 4 Februari lalu, Kilang Dumai menggelar pelatihan pembuatan mie sehat dari sorgum bagi istri-istri petani dan warga sekitar, menghadirkan pakar Ketua Koperasi Sorghum Nusantara, Yudith Sriwulandari, sebagai tutor. Kini, peserta mampu mengolah tepung sorgum menjadi berbagai produk lezat dan sehat, seperti spageti dan mie ayam.
Selain itu, hasil panen sorgum Pokmas Alam Tani juga diintegrasikan melalui kolaborasi dengan kelompok Sehati yang kini berkembang menjadi UMKM Wirani Rejosari, menghasilkan inovasi pangan seperti cookies, brownies, dan keripik sorgum.
Bertepatan dengan Hari Tani Nasional setiap 24 September, momentum ini menjadi refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung kesejahteraan petani lokal, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan. Pertamina melalui Kilang Dumai konsisten hadir lewat pendampingan, pelatihan, dan akses pasar, menegaskan komitmen memperkuat peran petani sebagai pilar pembangunan nasional serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Kami percaya bahwa keberhasilan program ini adalah hasil kolaborasi. Sektor pertanian punya peran besar dalam membentuk realitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Pertamina berkomitmen terus hadir mendampingi petani lokal agar tumbuh bersama dan berdaya,” pungkasnya.
Keberhasilan Pokmas Alam Tani binaan Kilang Pertamina Dumai menjadi bukti nyata bahwa dukungan kepada petani lokal melalui program pendampingan yang inklusif dan berkelanjutan, serta komitmen kolaboratif dalam rehabilitasi lahan gambut pasca-Karhutla, mampu mengembalikan lahan menjadi produktif bila dikelola dengan tepat.**