Semangat Gotong Royong Kelompok Luang Bonsu: Hadirkan Harapan Baru dari Ternak Bebek Petelur

Keterangan Foto: Kelompok Luang Bonsu mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas melalui Program SEMARAK RIAU untuk Budidaya Ternak Bebek Petelur

Bengkalis (Surya24.com) – Selama bertahun-tahun, anggota Kelompok Luang Bonsu yang merupakan bagian dari masyarakat adat Suku Sakai menggantungkan penghidupannya pada pekerjaan harian dan aktivitas di perkebunan kelapa sawit. Ketidakpastian pekerjaan membuat penghasilan keluarga tidak menentu. Ketika tidak ada panggilan bekerja, tidak ada pula pemasukan yang dapat dibawa pulang. 

Gobang melihat potensi yang dimiliki wilayah tempat tinggal mereka, mulai dari ketersediaan lahan, sumber air, hingga kondisi lingkungan yang sangat mendukung untuk pengembangan peternakan bebek petelur. Potensi tersebut belum pernah dimanfaatkan karena masyarakat tidak memiliki pengalaman, keterampilan, maupun modal untuk memulai usaha peternakan, meskipun kelompok ini memiliki akses terhadap pasar lokal untuk penjualan telur secara berkelanjutan. 

Tingginya harga pakan serta keterbatasan modal juga menjadi tantangan terbesar dalam mengembangkan budidaya bebek petelur. Harapan baru mulai hadir ketika Kelompok Luang Bonsu mendapatkan pendampingan melalui Program SEMARAK RIAU yang dijalankan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). 

Melalui program tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh dukungan berupa penyediaan sarana produksi, tetapi juga peningkatan kapasitas melalui pelatihan budidaya bebek petelur, pengelolaan kesehatan ternak, serta manajemen usaha sebagai bekal untuk mengembangkan usaha yang sesuai dengan potensi wilayah mereka. 

Nilai gotong royong yang telah menjadi budaya masyarakat Suku Sakai menjadi modal sosial yang memperkuat pengelolaan usaha. Setiap hari, anggota kelompok bersama-sama mengelola kandang dengan total hampir mencapai 300 ekor bebek dan memungut telur bebek secara bergotong royong. Proses tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis dalam beternak, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu mengembangkan usaha yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi keluarga dan komunitas. 

Rutinitas sederhana ini menjadi simbol perubahan besar bagi masyarakat Suku Sakai yang sebelumnya hanya bergantung pada pekerjaan harian dan hasil perkebunan sawit yang tidak selalu tersedia. Kini, budidaya bebek petelur telah menjadi salah satu sumber penghasilan baru bagi Kelompok Luang Bonsu. 

Penjualan telur memberikan pemasukan yang lebih rutin sehingga membantu meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga. Lebih dari sekadar memperoleh tambahan pendapatan, masyarakat juga memiliki keterampilan baru dalam mengelola usaha peternakan serta semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha secara mandiri dengan memanfaatkan potensi yang ada di wilayah mereka sendiri. 

"Dulu kami hanya menunggu ada pekerjaan setiap hari. Kalau tidak ada yang memanggil bekerja, berarti tidak ada penghasilan. Sekarang setiap pagi kami mengumpulkan telur hasil ternak sendiri. Bagi kami, telur-telur itu bukan hanya untuk dijual, tetapi menjadi bukti bahwa kami bisa membangun penghidupan dari tanah kami sendiri," ujar Gobang, 5 Agustus 2026.. 

Keberhasilan yang dirasakan saat ini lahir dari kerja keras seluruh anggota kelompok. Mereka bersama-sama belajar memelihara ternak, menyusun jadwal pemberian pakan, menjaga kebersihan kandang, memantau kesehatan bebek, hingga mencatat hasil produksi telur bebek yang mencapai lebih dari 250 butir setiap harinya. Budaya gotong royong yang telah lama hidup di tengah masyarakat Suku Sakai menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan usaha tersebut. 

Program SEMARAK RIAU merupakan bagian dari komitmen PT Pertamina Hulu Rokan dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola potensi lokal secara mandiri, sehingga tercipta usaha yang produktif, berdaya saing, dan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan.***