Dari Usaha Kecil, Tumbuh Harapan Besar: Kisah UMKM Dumai Menemukan Jalan Bersama Pertamina
Oleh Ridwan Safri
ADA MASA ketika dunia terasa berjalan lebih lambat. Jalanan sepi, aktivitas dibatasi, dan banyak orang memilih tinggal di rumah. Di tengah suasana itu, Citra Sari, S.Hum., justru mencoba mencari satu jawaban sederhana: apa yang bisa dibuat dan dijual untuk bertahan?
Pertanyaan itu kemudian membawa Citra pada sebuah gagasan yang kelak menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya.
Ia mulai memikirkan makanan yang tidak cepat rusak. Donat yang sebelumnya dibuatnya hanya mampu bertahan beberapa hari. Setelah itu teksturnya mulai mengeras dan tidak lagi menarik untuk dijual.
Dari kegelisahan itulah ide membuat Bagelan muncul.
Kini, dari sebuah usaha yang dirintis sejak 13 Oktober 2022, nama Laksamana Snack perlahan menemukan tempatnya di tengah pasar makanan ringan Kota Dumai.
Beralamat di Jalan Patimura, Komplek TNI AL Blok A No. 1, Dumai, Riau, Laksamana Snack tumbuh sebagai usaha kuliner yang memproduksi berbagai makanan ringan, mulai dari Bagelan, karipap hingga donat.
Namun, perjalanan itu bukanlah jalan yang selalu mulus.
Bagi Citra, membangun usaha bukan sekadar membuat makanan kemudian menjualnya. Ada kemasan yang harus diperbaiki, legalitas yang harus dilengkapi, pemasaran yang harus diperluas, hingga bagaimana sebuah produk kecil dari Dumai bisa dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Di titik itulah kehadiran Rumah BUMN Pertamina Dumai menjadi bagian dari perjalanan Laksamana Snack.
" Saya dibina oleh Rumah BUMN. Pembinaan itu mulai dari packaging, medsos, surat-surat semua dibantu. Tidak itu saja, setiap ada event-event selalu kami diundang sehingga produk-produk saya bisa dikenal masyarakat luas," ujar Citra, Kamis (24/9/2026).
Perlahan, pintu pasar yang sebelumnya terasa jauh mulai terbuka.
Produk Laksamana Snack kini telah masuk ke sejumlah gerai Alfamart di Dumai dan Duri. Bahkan, produk tersebut juga telah hadir di dua lokasi Alfamart di Pekanbaru, yakni kawasan Bandara dan Air Hitam.
Bagi sebuah UMKM yang berangkat dari keterbatasan, masuknya produk ke jaringan ritel bukan sekadar soal bertambahnya tempat penjualan.
Di balik setiap kemasan yang tersusun di rak, ada perjalanan panjang seorang pelaku usaha yang memilih untuk tidak berhenti ketika keadaan sulit.
Bagelan dan Sebuah Ingatan dari Masa Sulit Citra masih mengingat bagaimana ide Bagelan itu lahir.

Foto Pemilik Laksamana Snack, Citra Sari, S.Hum.
Saat aktivitas masyarakat terbatas karena pandemi, ia berpikir tentang makanan yang bisa bertahan lebih lama. Ia tidak ingin hanya membuat produk yang selesai dalam hitungan hari.
"Saya mulai berpikir, apa kira-kira jualan yang bisa tahan lama. Kalau donat itu hanya tahan tiga hari, setelah itu mulai keras. Setelah saya pikir, akhirnya muncullah ide buat Bagelan," kenangnya.
Bagelan kemudian dikembangkan dengan proses yang tidak sederhana.
Roti tersebut melalui tiga kali proses pemanggangan dengan api kecil. Hasilnya adalah makanan ringan bertekstur garing dan renyah yang dapat disimpan dalam waktu relatif lama.
Dari resep dasar itu, Citra kemudian berinovasi.
Bagelan yang dahulu identik dengan roti jadul manis bertabur gula pasir kini hadir dalam beberapa pilihan rasa, seperti original, keju, cokelat, bawang putih dan telur asin.
Ada pula karipap dengan berbagai isian. Mulai dari ikan sarden, kentang dan ayam, ubi ungu hingga durian.
Karipap itu dibuat setengah matang sebelum dibekukan. Bagi konsumen, konsep tersebut menjadi pilihan praktis untuk menyediakan makanan di rumah.
"Karipap Frozen juga salah satu cemilan yang berisikan kentang, ubi ungu dan durian. Karipap yang sudah digoreng setengah matang dan di-frozen-kan menjadi solusi cemilan di rumah," kata Citra.
Selain itu, Laksamana Snack juga memproduksi donat. Jika sebelumnya dikenal dengan nama Donat Pepaya, kini produknya berkembang menjadi donat susu frozen yang juga dipasarkan ke sejumlah kafe di Dumai.
Dari dapur produksi yang sederhana, berbagai produk itu terus berjalan mencari pasarnya masing-masing.
Ada yang menjadi camilan keluarga.
Ada yang dipasarkan sebagai oleh-oleh.
Ada pula yang menjadi teman secangkir kopi di kafe.
Memanggang Harapan di Api Kecil: Kisah Ketekunan Citra Menembus Batas Kota Bersama Rumah BUMN
Ketika Produk Kecil Mulai Menyeberangi Batas Kota
Perjalanan Laksamana Snack tidak berhenti di Dumai.
Citra menyebut produknya pernah direkrut menjadi mitra salah satu pusat oleh-oleh di Pekanbaru. Produk tersebut juga pernah mengikuti pameran hingga ke Melaka.
Pengalaman itu membuat Citra semakin memahami bahwa kualitas produk saja tidak cukup.
Sebuah UMKM harus mampu tampil meyakinkan. Kemasan harus menarik. Legalitas harus lengkap. Pemasaran harus mengikuti perkembangan zaman.
Karena itu, pembinaan yang diberikan Rumah BUMN Pertamina Dumai menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut.
Rumah BUMN tidak hanya membantu dari sisi kemasan dan pemasaran digital, tetapi juga mendampingi pelaku usaha dalam melengkapi legalitas produk, termasuk pengurusan BPOM dan sertifikat halal.
"Produk kami memiliki banyak variasi, jadi bisa memenuhi harapan pasar, dengan ciri khas rasa masing-masing," tutur Citra.
Di balik perkembangan itu, ada satu harapan yang terus dijaga: Laksamana Snack tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas.
Rumah BUMN dan Langkah Menuju Pasar yang Lebih Luas

Foto Fasilitator Rumah BUMN Pertamina Dumai, Raffi Pawitra.
Fasilitator Rumah BUMN Pertamina Dumai, Raffi Pawitra, mengatakan Laksamana Snack telah cukup lama menjadi mitra pembinaan.
Menurutnya, pendampingan dilakukan dari berbagai sisi, mulai dari kemasan, legalitas usaha hingga tempat produksi agar produk semakin layak dipasarkan.
"Ya, sudah cukup lama menjadi mitra kami. Kami membina itu mulai dari segi packaging-nya, legalitas usahanya dan tempat produksinya, bagaimana produknya layak dipasarkan," ujar Raffi.
Laksamana Snack juga menjadi salah satu peserta dalam program dan kegiatan SMESCO yang digelar di Pekanbaru pada 25-27 September 2026.
Bagi Raffi, keikutsertaan Citra dalam berbagai kegiatan pembinaan menunjukkan kemauan untuk terus belajar dan berkembang.
Bahkan, Citra juga menjadi salah satu peserta Pertamina UMK Academy, sebuah program pembinaan berjenjang bagi pelaku usaha mikro dan kecil untuk naik kelas melalui pelatihan bisnis, penguatan legalitas, pemasaran digital hingga coaching. "Alhamdulillah, Ibu Citra mengikuti terus setiap tahun," kata Raffi.
Sebuah Harapan yang Belum Selesai
Hari ini, ketika produk Laksamana Snack mulai menempati rak-rak ritel dan dikenal lebih banyak orang, perjalanan Citra sesungguhnya belum selesai. Masih ada mimpi yang lebih besar.
Bukan hanya memperluas pasar, tetapi suatu hari memiliki toko sendiri, membuka lebih banyak kesempatan kerja, dan membawa nama UMKM Dumai lebih jauh.
Raffi berharap Laksamana Snack mampu berdiri semakin mandiri.
"Mungkin untuk ke depannya lebih bagus lagi, bisa go global. Pemasarannya lebih luas, bisa dikenal masyarakat Indonesia atau luar negeri," harapnya.
Harapan itu sejalan dengan visi yang dibangun Citra: menjadikan Laksamana Snack sebagai perusahaan makanan ringan yang unggul, berkualitas, memiliki cita rasa terbaik, halal, terjangkau dan berpotensi menembus pasar ekspor.
Tetapi di balik visi besar itu, semuanya bermula dari sebuah kegelisahan sederhana.
Tentang seorang perempuan yang melihat keadaan sulit pada masa pandemi, kemudian bertanya kepada dirinya sendiri tentang apa yang bisa dilakukan.
Jawabannya bukan sesuatu yang besar.
Hanya sebuah roti.
Dibuat perlahan dengan api kecil.
Dipanggang berkali-kali.
Namun dari sana, sebuah perjalanan dimulai.
Hari ini Bagelan Laksamana Snack mungkin hanya terlihat sebagai makanan ringan dalam sebuah kemasan. Tetapi bagi Citra, di balik setiap bungkus itu tersimpan cerita tentang keberanian untuk mencoba, kesabaran untuk belajar, dan keyakinan bahwa usaha kecil pun memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Dari dapur di sudut Kota Dumai, harapan itu terus dipanggang—pelan-pelan, tetapi tidak pernah padam.
Dan mungkin, seperti Bagelan yang dibuat dengan api kecil, keberhasilan pun memang tidak selalu lahir dari api yang besar.
Kadang ia tumbuh dari ketekunan yang dijaga setiap hari.
Selain itu, Rumah BUMN Dumai juga membina beberapa UMKM diantaranya sebuah usaha batik.
Bagi Rumah BUMN, tidak semua usaha besar lahir dari sebuah rencana yang matang. Ada yang bermula dari rasa penasaran. Ada pula yang tumbuh dari sebuah kebetulan kecil, lalu perlahan berubah menjadi harapan.
Begitulah kisah Batik Amewa, sebuah usaha batik yang tumbuh dari Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau.
Di balik lembaran kain bermotif Melayu yang kini mulai dikenal masyarakat, ada cerita panjang seorang perempuan bernama Triana Nurhayati, S.Hut.
Merawat Nyala Kreasi Lokal: Langkah Batik Amewa Bersama Rumah BUMN 
Foto Pegawai Rumah BUMN saat berkunjung ke tempat produksi Batik Amewa.
Triana Nurhayati tidak pernah membayangkan bahwa sebuah persinggahan singkat dalam perjalanan bersama keluarga akan menjadi awal dari perjalanan panjangnya mengenal dunia batik.
Saat itu, Triana sedang bepergian bersama keluarganya. Dalam perjalanan pulang, matanya tertuju pada sebuah rumah batik. Rasa penasaran membuatnya berhenti.
Di tempat itu, ia melihat orang-orang belajar membatik menggunakan canting, alat sederhana yang menjadi salah satu simbol tradisi membatik.
Triana pun mencoba.
Tidak lama. Hanya sebuah pengalaman kecil.
Namun, dari goresan lilin pertama melalui canting itulah sesuatu mulai menyala.
Beberapa hari kemudian, rasa ingin tahunya semakin besar. Ia menghubungi pemilik rumah batik tersebut dan memutuskan untuk belajar lebih serius.
Selama tiga hari mengikuti pelatihan, Triana menyerap berbagai pengetahuan tentang membatik. Setelah pelatihan selesai, ia tidak berhenti.
Ia membawa pengetahuan itu pulang ke Dumai.
Di kota sendiri, Triana mulai mempraktikkan keterampilan tersebut bersama sejumlah orang dalam komunitas. Dari tangan mereka, satu demi satu kain mulai berubah menjadi karya.
Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang.
Hanya karena hobi.
Namun, perlahan muncul sebuah keyakinan.
"Awalnya saya iseng membuatnya, cuma untuk mengisi waktu luang karena hobi. Dari situ ternyata kami merasa hasil karya kami ini bagus. Kenapa tidak kita kembangkan saja?" tutur Triana, Rabu (16/9/2026).
Pertanyaan sederhana itu kemudian menjadi keputusan besar.
Bersama anak-anak komunitas, Triana mulai mengembangkan usaha tersebut. Mereka kemudian mencari sebuah nama yang dapat menjadi identitas karya mereka.
Lahirlah Batik Amewa.
Nama itu bukan sekadar merek.
Amewa merupakan singkatan dari Asik, Menarik dan Istimewa.
Tiga kata yang menurut Triana menggambarkan perjalanan mereka.
Membatik, katanya, adalah sesuatu yang asik. Karya yang dihasilkan menarik. Dan setiap hasilnya memiliki keistimewaan tersendiri karena tidak semua orang mampu menghasilkan batik dengan proses dan ketelitian yang sama.
Dari sana, Triana mulai membangun identitas usaha. Logo dibuat. Produk dikembangkan. Pemasaran mulai dilakukan, baik secara daring maupun luring.
Pelan-pelan, Batik Amewa mulai menemukan jalannya.
Karya yang semula hanya dibuat untuk mengisi waktu luang mulai dilirik. Undangan kerja sama datang. Salah satunya dari Dekranasda Provinsi Riau yang mempercayakan Batik Amewa menjadi sponsor Duta Wisata Riau Batik Wanita.
Kepercayaan lainnya kemudian menyusul melalui kegiatan Duta Batik Riau.
Bagi Triana, pengalaman tersebut menjadi semacam tanda bahwa apa yang mereka kerjakan ternyata memiliki nilai.
Dari situlah kepercayaan dirinya tumbuh.
Ia kemudian mendaftarkan Batik Amewa ke Dinas UMKM Dumai. Respons yang diterima pun positif.
Perjalanan itu akhirnya mempertemukan Batik Amewa dengan Rumah BUMN Pertamina Dumai.

Foto Fasilitator Rumah BUMN Dumai, Dodi Agustino.
Di titik inilah perjalanan Batik Amewa memasuki babak baru.
Rumah BUMN Pertamina Dumai tidak hanya melihat Batik Amewa sebagai usaha yang menghasilkan kain dan produk batik. Lebih dari itu, ada potensi ekonomi lokal yang sedang tumbuh dan membutuhkan ruang untuk berkembang.
Fasilitator Rumah BUMN Pertamina Dumai, Dodi Agustino, mengatakan Batik Amewa memiliki potensi karena menghadirkan produk kerajinan yang lahir dari Dumai dengan mengangkat motif-motif Melayu.
Menurutnya, selama ini Dumai lebih banyak dikenal melalui produk kuliner. Kehadiran Batik Amewa memberikan warna lain bagi potensi ekonomi kreatif daerah.
"Dengan adanya pelaku UMKM Batik Amewa ini, suatu potensi daerah yang sebenarnya bisa dikembangkan, khususnya lokal dari Dumai. Batik Amewa membuat batik dengan motif-motif Melayu," kata Dodi.
Namun, perjalanan untuk memperbesar usaha tidak cukup hanya dengan memiliki produk yang bagus.
Ada manajemen yang harus diperbaiki. Ada pemasaran yang perlu diperluas. Ada inovasi yang harus terus dilakukan.
Di sinilah pendampingan Rumah BUMN Pertamina Dumai mengambil peran.
Dodi menyebut produk Batik Amewa sebenarnya sudah memiliki kualitas yang baik. Tantangannya adalah bagaimana membuat produk tersebut menjangkau pasar yang lebih luas.
"Batik Amewa ini produknya sudah bagus, tetapi untuk jangkauan pemasarannya masih cukup terbatas. Ini menjadi tugas kami sebagai mitra Rumah BUMN Dumai untuk memberikan kesempatan kepada Batik Amewa agar bisa berkembang," ujarnya.
Pendampingan dilakukan secara bertahap.
Mulai dari pembenahan manajemen usaha, penguatan pemasaran, inovasi dan kreasi produk hingga membuka akses kepada berbagai program yang dapat membantu UMKM berkembang.
Pendampingan juga tidak berhenti di Rumah BUMN. Batik Amewa diarahkan untuk dapat terhubung dengan stakeholder, instansi pemerintah maupun perusahaan swasta yang berada di Kota Dumai.
Bagi Dodi, konsistensi Batik Amewa selama ini menjadi modal penting.
Usaha tersebut telah berjalan cukup lama. Di dalamnya terdapat kelompok usaha bersama yang terus menjaga semangat untuk berkembang.
Ada proses panjang yang mungkin tidak selalu terlihat oleh konsumen ketika mereka melihat selembar kain batik.
Ada waktu yang dihabiskan untuk membuat motif.
Ada ketelitian ketika canting menyentuh kain.
Ada kesabaran ketika warna mulai diberikan.
Dan ada keberanian untuk terus mencoba ketika pasar belum selalu berpihak.
Karena itu, pembinaan bagi UMKM bukan hanya soal membantu sebuah usaha menjual lebih banyak produk. Ada proses untuk membuat pelaku usaha percaya bahwa karya mereka layak untuk diperjuangkan.
Rumah BUMN Pertamina Dumai pun mengedepankan pola pembinaan dan pendampingan, baik dari sisi manajemen maupun teknis usaha.
Untuk bantuan berupa alat produksi, Rumah BUMN tidak secara khusus memberikan hibah alat kepada setiap mitra UMKM. Namun, pelaku UMKM memiliki kesempatan mengikuti program-program Pertamina yang memberikan apresiasi kepada usaha yang memenuhi kriteria tertentu.
Salah satunya Pertamina Usaha Mikro dan Kecil (UMK) Akademi 2026, yang menurut Dodi telah memasuki tahun keenam pelaksanaan.
Program tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk meraih penghargaan atau reward, termasuk berupa alat produksi maupun kebutuhan usaha bagi peserta yang berhasil memenuhi kategori champion.
Bagi Batik Amewa, kesempatan seperti itu bukan sekadar soal mendapatkan peralatan.
Lebih jauh, ia menjadi bagian dari perjalanan untuk membuat sebuah usaha kecil berani bermimpi lebih besar.
Dari sebuah rumah batik yang ditemukan secara tidak sengaja dalam sebuah perjalanan, dari sebuah canting yang awalnya hanya dicoba karena penasaran, kini lahir sebuah usaha yang membawa nama Dumai melalui kain-kain bermotif Melayu.
Batik Amewa mungkin belum menjadi nama besar.
Perjalanannya juga belum selesai.
Namun, setiap motif yang lahir dari tangan para pembatiknya menyimpan pesan sederhana: bahwa sebuah karya lokal dapat tumbuh ketika ada keberanian untuk memulai, ketekunan untuk bertahan, dan pendampingan yang memberi ruang untuk berkembang.
Di Kelurahan Mundam, nyala itu masih terus dijaga.
Canting terus bergerak.
Kain terus dibentangkan.
Motif-motif Melayu terus dilahirkan.
Dan di balik semua itu, ada harapan agar suatu hari nanti ketika orang menyebut batik dari Dumai, mereka tidak hanya mengenal sebuah nama, tetapi juga mengenal cerita tentang orang-orang yang dengan sabar merawatnya.
Batik Amewa bukan hanya tentang kain. Ia adalah cerita tentang sebuah kebetulan yang berubah menjadi karya, sebuah hobi yang tumbuh menjadi usaha, dan sebuah mimpi lokal yang perlahan menemukan jalannya menuju pasar yang lebih luas.
Tidak hanya itu, melalui Rumah BUMN Dumai, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai terus membuka kesempatan bagi pelaku UMKM.
Dari Sudut Kota Dumai Menjemput Pasar: Rumah BUMN Membuka Jalan bagi UMKM Lokal
Bukan Sekadar Berjualan, Ada Harapan yang Dibawa UMKM Dumai ke SMEXPO

Foto VC Community, Involvement & Development, Dian Hapsari Firasati meninjau stand UMKM Pertamina SMEXPO 2026 di Pekanbaru, Riau.
Tidak semua perjuangan pelaku usaha dimulai dari toko besar, modal yang berlimpah, atau etalase yang ramai pembeli.
Sebagian justru berawal dari ruang sederhana, dari tangan yang tekun mengolah bahan menjadi barang bernilai, dari dapur kecil yang setiap hari mengejar pesanan, dan dari keyakinan bahwa sesuatu yang dibuat dengan tangan sendiri suatu hari akan menemukan pasarnya.
Begitulah kira-kira wajah perjuangan para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari Kota Dumai.
Di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka, persoalan UMKM bukan hanya bagaimana menghasilkan produk. Ada perjuangan lain yang tidak kalah berat: bagaimana membuat produk itu dikenal, menemukan konsumen dan memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Pada titik itulah Rumah BUMN Dumai hadir membuka jalan.
Melalui berbagai kegiatan pembinaan dan kesempatan promosi, Rumah BUMN Dumai berupaya membawa UMKM binaannya keluar dari lingkar pasar yang terbatas. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 yang berlangsung di Livingworld Mall Pekanbaru, 25–27 September 2026.
Selama tiga hari, produk-produk UMKM mitra Rumah BUMN Dumai mendapat ruang untuk bertemu langsung dengan masyarakat.
Ada makanan dan camilan, kerajinan, wastra, fashion, aksesoris hingga berbagai produk kreatif lainnya.
Bagi sebagian orang, mungkin yang terlihat hanya deretan produk di sebuah ruang pamer.
Namun bagi para pelaku UMKM, setiap produk yang tersusun rapi itu membawa cerita yang jauh lebih panjang.
Di balik sebuah kemasan makanan, ada tangan yang bangun lebih awal untuk menyiapkan produksi.
Di balik kerajinan, ada waktu yang dihabiskan untuk memilih bahan, mengolahnya satu demi satu, hingga menjadi barang yang memiliki nilai guna.
Dan di balik sebuah lapak pameran, ada harapan sederhana: semoga semakin banyak orang mengenal produk kami.
Harapan itu pula yang dibawa Siti Rohani, pemilik Difa Kreasi, ketika membawa karya kerajinan berbahan dasar lidi sawit ke Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026.
Lidi sawit yang mungkin selama ini dipandang sebagai bagian dari limbah atau bahan sederhana, di tangan Siti Rohani diubah menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
Baginya, kesempatan tampil dalam sebuah ajang seperti SMEXPO bukan sekadar soal memajang produk.
Ada kesempatan untuk memperkenalkan hasil kerja kerasnya kepada orang-orang yang sebelumnya mungkin belum pernah mengenal Difa Kreasi.
“Kami merasa senang dapat berpartisipasi dalam Pertamina SMEXPO Pekanbaru tahun ini. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi kami untuk mempromosikan produk dan menjangkau pemasaran yang lebih luas melalui pengunjung yang hadir,” ujar Siti Rohani.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi bagi pelaku UMKM, kesempatan bertemu langsung dengan calon konsumen memiliki arti besar.
Sebab usaha kecil sering kali tidak memiliki kemampuan untuk membuka banyak gerai atau memasang promosi di berbagai tempat. Maka ketika sebuah pintu dibuka, mereka berusaha masuk membawa apa yang mereka punya: produk, keberanian dan harapan. 
Foto Fasilitator Rumah BUMN Dumai, Raffi Pawitra bersama Owner Laksamana Snack, Citra Sari saat mengikuti Pertamina SMEXPO di Pekanbaru, Riau.
Cerita serupa datang dari Citra Sari, Owner Laksamana Snack.
Ia melihat keikutsertaan dalam Pertamina SMEXPO sebagai kesempatan untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada masyarakat sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
Di tengah perjalanan membangun usaha, kesempatan seperti itu menjadi bagian penting.
Bukan hanya karena produk bisa terjual, tetapi karena setiap pertemuan dengan konsumen dapat membuka kemungkinan baru.
Bisa jadi dari sebuah percakapan lahir pelanggan baru.
Dari seorang pengunjung muncul jaringan baru.
Atau dari sebuah perkenalan sederhana, terbuka jalan menuju pasar yang selama ini belum pernah dijangkau.
Di situlah perjuangan UMKM sering berlangsung.
Mereka tidak hanya berjuang membuat produk, tetapi juga berjuang agar produk itu dilihat, dipercaya dan dipilih.
Rumah BUMN Dumai kemudian mengambil peran sebagai jembatan.
Bukan menggantikan perjuangan para pelaku usaha, melainkan memberikan ruang agar perjuangan itu memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pasar yang lebih luas.
Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 menjadi salah satu ruang tersebut.
Para UMKM mitra Pertamina yang telah melalui proses kurasi berdasarkan produk unggulan mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat secara langsung.
Bagi UMKM Dumai, kesempatan itu menjadi pengalaman sekaligus pembelajaran.
Mereka dapat melihat bagaimana konsumen merespons produk, mendengar langsung pertanyaan dan kebutuhan pasar, membangun jejaring, sekaligus memperkenalkan identitas produk lokal dari Kota Dumai.
Sebab membesarkan sebuah usaha tidak selalu tentang seberapa besar produksi hari ini.
Terkadang, langkah paling penting adalah menemukan pintu pertama menuju pasar yang lebih besar.
Dan bagi pelaku UMKM, pintu itu bisa berarti banyak hal.
Sebuah undangan pameran.
Sebuah pertemuan dengan konsumen.
Sebuah jaringan baru.
Atau seseorang yang pulang membawa produk mereka dan kemudian mengenalkannya kepada orang lain.
Dari sanalah sebuah usaha kecil perlahan bisa tumbuh.
Rumah BUMN Dumai berupaya menjaga agar pintu-pintu kesempatan itu tetap terbuka bagi UMKM binaannya.
Sebab di balik setiap produk lokal yang dipajang, sesungguhnya ada kehidupan yang sedang diperjuangkan.
Ada keluarga yang menggantungkan harapan pada usaha.
Ada waktu yang dikorbankan.
Ada keberanian untuk terus mencoba.
Dan ada mimpi agar produk yang lahir dari tangan-tangan masyarakat Dumai tidak hanya dikenal di kota sendiri, tetapi mampu berjalan lebih jauh.
Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 akhirnya bukan sekadar tempat mempertemukan produk dan pembeli.
Bagi UMKM Dumai, ia menjadi ruang untuk mengetuk pintu pasar.
Mereka datang membawa produk dari kota sendiri.
Mereka pulang membawa pengalaman, jejaring dan harapan baru.
Karena bagi usaha kecil, setiap kesempatan untuk dikenal adalah satu langkah untuk bertahan, dan setiap pintu pasar yang terbuka adalah kemungkinan baru untuk tumbuh.
Penulis: Ridwan Safri
