Pasca Gempa Bantul, Benarkah Pantai Selatan Jawa Menyimpan Potensi Tsunami hingga 20 Meter? Berikut Penjelasannya

Ilustrasi (Dok:Net)

JAKARTA (SURYA24.COM)-  Pantai Selatan Jawa adalah salah satu destinasi wisata yang menakjubkan di Indonesia. Terletak di sepanjang garis pantai selatan pulau Jawa, wilayah ini menawarkan kombinasi yang memukau antara keindahan alam yang spektakuler dan keunikan budaya yang kaya. Namun, di balik keindahan yang menakjubkan ini, terdapat potensi bahaya yang harus diwaspadai, seperti potensi tsunami.

Keindahan Pantai Selatan Jawa

Pantai Selatan Jawa terkenal dengan pesona alamnya yang memukau. Dari pantai pasir putih yang luas hingga tebing terjal yang menjulang tinggi, setiap sudut pantai ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Beberapa pantai terkenal di wilayah ini antara lain Pantai Parangtritis di Yogyakarta, Pantai Balekambang di Malang, Pantai Pangandaran di Jawa Barat, dan banyak lagi.

Selain pantai-pantai yang menakjubkan, Pantai Selatan Jawa juga memiliki ragam kegiatan yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Wisatawan dapat menikmati berbagai aktivitas seperti berselancar, menyelam, berjemur di pantai, atau sekadar menikmati pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan. Di sepanjang pantai, terdapat juga desa-desa nelayan yang mempertahankan kearifan lokal dan kehidupan tradisional mereka, memberikan pengalaman budaya yang unik bagi para pengunjung.

Potensi Tsunami di Pantai Selatan Jawa

Meskipun Pantai Selatan Jawa menawarkan pesona alam yang menakjubkan, wilayah ini juga memiliki potensi bahaya alam yang perlu diwaspadai, seperti potensi tsunami. Pantai Selatan Jawa berada di tepi Samudra Hindia, yang merupakan wilayah yang rentan terhadap gempa bumi tektonik yang dapat memicu terjadinya tsunami.

Banyak sekali aktivitas tektonik yang terjadi di wilayah ini, seperti adanya lempeng Indo-Australia yang bertabrakan dengan lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Gempa bumi yang terjadi akibat pergerakan lempeng tersebut dapat memicu terjadinya tsunami di pantai-pantai selatan Jawa.

 

Pada masa lalu, tercatat beberapa kejadian tsunami yang telah melanda Pantai Selatan Jawa. Salah satu yang terbesar adalah tsunami yang terjadi pada tahun 2006 di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, yang mengakibatkan kerugian besar dan menimbulkan kepanikan di masyarakat setempat.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya potensi tsunami dan mengembangkan sistem peringatan dini yang efektif. Sistem peringatan dini yang baik dapat memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat dan wisatawan untuk mengungsi ke tempat yang aman saat terjadi ancaman tsunami.

Kajian ITB 

Laut Selatan atau Samudra Hindia menyimpan potensi tsunami yang begitu besar. Baru saja terjadi gempa di Bantul.

Dikutip dari intisarionline.com, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diterjang gempa berkekuatan Magnitudo 6,4.

Puluhan rumah rusak akibat gempa yang bersumber di Samudra Hindia itu, termasuk satu orang meninggal dunia di Bantul.

Pesisir Selatan Pulau Jawa, atau Samudra Hindia, memang masih menyimpan misteris geologi hingga sekarang.

 

Termasuk potensi tsunami yang disebut bisa mencapai 20 meter. Benarkah?

Menurut studi yang dilakukan oleh ITB, ada potensi tsunami setinggi di Selatan Jawa.

Hasil studi itu juga sudah mendapat tanggapan dari pakar tsunami dari BPPT.

Hasil kajian terbaru dari peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang potensi tsunami di selatan Jawa yang bisa mencapai ketinggian 20 meter mendapatkan sorotan publik.

Kajian itu telah dipublikasikan di jurnal internasional Nature pada Kamis (17/9/2020) oleh tim peneliti dengan penulis pertama S Idiantoro dari Global Geophysics Reasearch Group ITB. Hal ini dianggap mengkhawatirkan.

Namun, apakah potensi tsunami mencapai 20 meter itu bisa terjadi?

Menanggapi kajian terbaru ini, pakar tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, angkat bicara.

Menurut Widjo, kajian atau publikasi terbaru terkait potensi tsunami 20 meter di Pantai Selatan Jawa membuka wacana baru tentang ancaman tsunami di Pantai Selatan Jawa.

 

"Potensi tsunami dari sumber megathrust bisa mencapai 20 meter atau lebih," kata Widjo kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2020).

Ia menambahkan, sebenarnya di zona subduksi selatan Jawa terdapat seismik gap atau kawasan aktif secara tektonik.

Namun, seismik aktif secara tektonik tersebut bersifat senyap atau hampa gempa dalam waktu lama.

Hal tersebut perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan ancaman dengan potensi katastropik atau bencana.

Maka, kendati gempa belum bisa diprediksi, potensinya bisa dihitung dan, melalui model, bisa diperkirakan dampak tinggi dan waktu tibanya tsunami.

"Kalau mengulang 400-500 tahun untuk gempa besar di zona subduksi selatan Jawa, mungkin tidak terlalu lama lagi akan terjadi, jika mengacu perhitungan akhir gempa besar terakhir yang terjadi berdasarkan katalog Wichman," jelas Widjo.

Berdasarkan katalog Wichman, yang mencatat gempa bumi dan tsunami di Indonesia antara tahun 1538 hingga 1877 adalah katalog berjudul Arthur Wichmann's Die Des Indischen atau Gempa Bumi di Kepulauan Hindia Belanda, yang mengumpulkan cerita 61 gempa bumi dan 36 tsunami besar terjadi.

 

Selain itu, Widjo juga menyinggung bahwa potensi gempa besar yang berpeluang memicu tsunami di zona subduksi selatan Jawa itu mengacu pada mitologi Ratu Kidul yang tertulis dalam tembang atau lagu macapat-pangkur.

"Meski begitu, gempa tetap belum bisa diprediksi kapan akan terjadi," ujarnya.

Kesimpulan

Pantai Selatan Jawa adalah surga bagi para pecinta alam dan penggemar wisata pantai. Keindahan alamnya yang memukau dan kegiatan yang bisa dinikmati menjadikan Pantai Selatan Jawa sebagai destinasi yang menarik. Namun, potensi bahaya tsunami juga harus diwaspadai.

Dalam mengunjungi Pantai Selatan Jawa, para pengunjung dan masyarakat setempat perlu meningkatkan kesadaran akan potensi bahaya tsunami. Perlu adanya edukasi yang memadai mengenai tanda-tanda awal dan perilaku yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi yang dapat memicu tsunami.

Selain itu, pemerintah juga perlu berperan aktif dalam membangun sistem peringatan dini yang efektif dan mudah diakses oleh masyarakat. Teknologi seperti sistem peringatan tsunami berbasis sensor gempa dan peringatan melalui ponsel dapat menjadi solusi efektif dalam memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat saat terjadi ancaman tsunami.

Tidak hanya itu, perlengkapan keselamatan seperti papan penunjuk jalur evakuasi, pos-pos pengungsian, dan rambu-rambu peringatan juga perlu dipasang dengan baik di sepanjang pantai. Hal ini akan membantu pengunjung dan masyarakat setempat dalam mengidentifikasi jalur evakuasi yang aman dan meminimalisir risiko saat terjadi ancaman tsunami.

Pantai Selatan Jawa tetap merupakan destinasi wisata yang menakjubkan, tetapi kehati-hatian dan kewaspadaan harus tetap diutamakan. Dengan meningkatkan kesadaran dan persiapan yang baik, pengunjung dan masyarakat setempat dapat menikmati keindahan Pantai Selatan Jawa dengan aman dan menjaga diri dari potensi bahaya tsunami yang dapat terjadi.***